Minggu, 18 Oktober 2015

FanFiction Kai (EXO) "123 Days for Love"







Title : 123 days for love
Cast : Kim Jong In (EXO), Shin Ae Rin (OC), Park Ye Na (OC), Other
Genre : Romance, Sad, Fantasy, School life, Mysteri, Family
Author : Sandra Tamara
Lenght : Chapter
Soundtrack :
Zia – Rumor (Chapter )



Happy Reading^^
Mian banyak typo ya 

CHAPTER 1
            Bulan April telah tiba dimana bulan yang akan memasuki Musim dengan udara yang hangat dan banyak bunga bunga yang bermekaran. Ya, bulan ini akan memasuki Musim Semi, banyak bunga bunga yang bermekaran di setiap sudut taman Sungji High School. Udara hangat di pagi hari membuat siapa saja yang bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.

 terlihat sosok namja dengan seragam sekolah Sungji High School sedang berjalan di koridor sekolahnya. Wajahnya begitu tampan dengan kulit berwarna putih pucat Serta rambutnya yang berwarna hitam gelap.
            Kim Jong In. Itulah nama namja tersebut. Jong-in tahun ini menginjak usia 19 tahun yang akan duduk di kelas 3 SMA. Selama sekolah di tempat tersebut, jong-in selalu mendapatkan masalah maka dari itu ia di jauhkan oleh teman temannya karena ia mempunyai sifat yang aneh. Tapi ia tidak masalah dengan hal itu, bahkan dengan hal itu ia sangat senang.
            Jong-in menaiki beberapa anak tangga untuk sampai di atap gedung sekolahnya tersebut. Beberapa murid Sungji pun hanya memperhatikan jong-in yang sedang menaiki beberapa anak tangga.

><><><><>< 

            Jong-in telah sampai di atap gedung sekolahnya tersebut. Ia pun menghirup nafas dalam dalam dan mengeluarkan dengan pelan. Ia segera melihat kedua telapak tangannya yang begitu pucat.
            “123 hari...” Gumam jong-in pelan.

#Flashback_on
            “Jika kau ingin berubah menjadi manusia sepenuhnya, kau harus mencari sosok gadis cantik yang belum pernah kau temui dan hiduplah bersamanya selama 123 hari... Setelah kau 123 hari itu sudah lewat, kau akan berubah menjadi manusia sepenuhnya.” Ucap seseorang tersebut kepada jong-in.
            “Jika aku tidak menemukan gadis itu, apa yang akan terjadi?”
            “Kau akan berubah menjadi seorang vampir untuk selamanya.”
            “Kapan waktu ku berakhir untuk mencari gadis itu?”
            “Minggu depan”
#Flashback_off

Skip.
            Bunyi bel telah berbunyi, murid murid di Sungji pun segera masuk kedalam kelasnya masing masing, begitu juga dengan jong-in yang masuk kedalam kelasnya.
            Berbeda dengan sosok gadis berambut panjang yang mengenakan seragam dari sekolah lain sedang berjalan di lorong untuk sampai di ruangan guru tersebut.
Clek~
            “Annyeong haseyo.” Sapa gadis itu.
            “Eoh. Kau murid baru itukah?” Tanya guru Jang yang terkejut melihat sosok gadis itu.

><><><><><>< 

            Guru jang dan siswi baru itu sudah berada di kelas 3 A. Siswa ataupun siswi yang berada di kelas tersebut hanya memandang gadis cantik tersebut yang berdiri di depan kelas.
            “Kita kedatangan murid baru, ia siswi pindahan dari sekolah Chunceon Girls High School, silahkan kenalkan dirimu”
            “Naneun Shin Ae Rin imnida. Mohon bantuannya” Ucap ae-rin yang menunduk sedikit.
            “Kau boleh duduk di kursi kosong di samping jong-in” Pinta guru Jang pada Ae-rin yang menunjukan kursi ke arah jongin.
            “Baik guru” Ucap ae-rin yang berjalan menuju kursinya.
            “Baiklah, kita lanjutkan materi kita kemarin. Untuk ae-rin, kau boleh pinjam buku catatan ke jong-in”
            “Ne Guru”

><><><><>< 

            Tettt........Tettt...........
            Bel istirahat telah berbunyi, guru yang berada di kelas 3A segera keluar dan disusul oleh murid murid lainnya.
            Saat ae-rin sedang merapihkan beberapa bukunya ke dalam tas, tiba tiba ia melihat jong-in yang bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
            “Eoh. Yak! Tunggu aku.” Teriak ae-rin yang terkejut tapi teriakan di abaikan oleh jong-in. Ia pun segera mempercepat aktivitasnya.
            Setelah selesai, ia pun bangkit dan berlari untuk mengejar jong-in yang berjalan di koridor sekolahnya.
            “Yak! Tunggu aku!” Teriak ae-rin yang berusaha menghentikan langkah jong-in.
            Jong-in yang merasa di panggil, ia segera menghentikan langkahnya dan ae-rin yang melihatnya berhenti ia segera berjalan dan berdiri di hadapannya.
            “Apa kau yang memanggilku?” Tanya jong-in dengan datar.
            “Ne, jika kau ingin keluar kelas seharusnya kau memberi tau ku”
            “Waeyo?”
            “Karena sekarang kau adalah teman sebangku, jadi jika kau ingin ke kantin atau ke tempat lain. Kau harus mengajak ku” Ucap ae-rin yang merintah jong-in.
            “Apa itu harus?”
            “Ne. HARUS.”
            “Sekarang kau ingin ke kantin kan?” Tanya ae-rin yang tersenyum.
            “Ne.”
            “Kajja... kita ke kantin bersama” Ajak ae-rin yang menarik lengan jong-in.

><><><><><><>< 

            Di kantin. Terlihat gadis cantik berambut panjang sedang memesan segelas coffee dingin trendynya. Setelah itu, ia mencari tempat duduk yang kosong. Dan tepat saat itu ia menemukan meja kosong, ia pun segera duduk dan menikmati coffeenya.
            Ia menikmatinya sambil melihat ke sekitarnya dan sesekali memperhatikan benda mahal itu yang ia letakan di atas meja tepat di samping coffeenya.
            Gadis ini bernama Park Ye Na. Gadis yang cukup terkenal di sekolah tersebut karena kecantikannya dan kepintaraannya tersebut.

*** Yena Pov ***
Cling~
            Ponselku berdering yang menandakan ada pesan masuk. Aku pun melihat pesan tersebut sambil meminum coffee trendyku.

            From : Park Chanyeol
            For : Park Ye Na
            ‘Aku sedang sibuk, bisakah kau tak mengganggu ketenanganku’

            “Aish... Inikan jam istirahat, apakah ia tidak ke kantin untuk makan” Pekik ku  pelan yang membaca pesan dari chanyeol. Ia adalah namja yang sudah ku anggap sebagai oppa ku sendiri.
            Aku pun segera mendongak, dan tanpa sengaja aku bertemu dengan jong-in yang sedang berjalan bersama gadis lain. Aku pun hanya memperhatikan mereka berdua yang berjalan sambil memilih – milih makanan.
            “Siapa gadis itu?” Gumam ku pelan yang masih memperhatikan mereka berdua.
            Aku hanya terus memperhatikan gadis yang sedang berjalan bersama jong-in. Gadis itu... Sepertinya pernah ku lihat tapi di mana dan kapan? Aku mulai mengingat sosok wajah gadis itu.
            “Ah... Ia kan Shin Ae Rin” Ucapku yang mengingat nama dari sosok gadis itu.
            “Ae-rin. Teman lama ku dulu” Ucapku yang terkejut.
            Jadi ia masuk sekolah ini. Ah jeongmal... aku sangat senang saat tau ia masuk ke sekolah ini. Aku akan menjadi teman dekatnya tapi... Sejak kapan ia kenal dengan jong-in. Bagaimana jika ia juga menyukai jong-in? Akankah kami bertengkar jika kami menyukai namja yang sama?
            Perlahan lahan senyumanku memudar saat menyadari bagaimana jika ae-rin menyukai jong-in. Aku pun bingung, ingin menjadi teman dekatnya atau sekedar teman saja? Aku pun mulai bertanya tanya dengan diriku sendiri.
Cring....
            Suara ponselku berdering yang membuatku terkejut dari lamunanku. Aku segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
            “Ne. Waeyo?”
            “....”
            “Ne. Geureh” Jawabku yang menutup ponselku dan beranjak pergi meninggalkan kantin.
*** Yena pov End ***

            Jong-in & Ae-rin terlihat sedang menikmati makanan mereka. Ae-rin hanya memasang setengah lingkarang di wajahnya sambil memakan makanannya. Sedangkan jong-in hanya memasang wajah datar sambil makan dan memperhatikan wajah ae-rin.
            “Yak. Kenapa kau pindah ke sekolah yang tidak ada aturannya?” Tanya jong-in yang menghentikan aktivitasnya dan hanya memperhatikan ae-rin.
            “Sebenarnya aku terpaksa masuk sekolah ini, jika tidak karena ayahku. Aku juga tidak akan sekolah yang tak ada aturannya ini” Jawab ae-rin sambil mengunyah makanan yang memandang wajah jong-in.
            “Apakah ia bisa menjadi sosok gadis yang di maksud cenayang tersebut?” Batin jong-in yang masih memandang ae-rin yang sedang mengunyah makanan.

><><><><><><>< 

            Saat ini yena sedang berkumpul bersama dengan anggota Osis lainnya. Terlihat yena begitu serius mendengar sang ketua yang berbicara.
            “Dua minggu lagi, Sekolah kita akan mengadakan sebuah pesta untuk hari jadinya sekolahnya ini. Kalian semua harus menyiapkan semua perlengkapan yang ada untuk dua minggu ke depan. Nanti kita juga akan mengadakan lomba, dress siapa yang begitu mewah, simple dan cantik.”
            “Apakah anggota Osis juga akan mengikuti lomba itu?” Tanya yena.
            “Ne. Kalian boleh ikut karena peserta akan di pilih oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah”

><><><><><><><>< 

            Bel masuk telah berbunyi, semua murid kembali masuk kedalam kelasnya. Di kelas 3A terlihat jong-in hanya duduk termenung sambil memandang ke depan, sedangkan ae-rin sedang membaca komik manga kesukaannya.
            “Ouh so sweetnya” Ucap ae-rin yang terbawa perasaan saat membaca komiknya tersebut dan membuat jong-in menolehnya.
            “Apaan?”
            “Eoh. Anio. Oh iya, aku belum tau siapa namamu?”
            “Naneun Kim Jong In imnida”
            “Jong-in. Nama yang mudah di ingat” Jawab ae-rin yang tersenyum.
            “Ne”
            “Oh iya, jong-in. Mau kah kau menjadi temanku?”
            “Teman?”
            “He’em... Chingu...” Jawab ae-rin yang tersenyum sambil mengangguk.
            “Baiklah” Jawab jong-in dengan datar tanpa menatap ae-rin.
            “Kau adalah teman pertamaku” Jawab ae-rin yang membuat jong-in lagi lagi menoleh kearahnya.

><><><><><><>< 

            Saat ini, jong-in sedang berjalan di lorong sekolahnya. Saat itu juga ia mendengar seseorang berbicara buruk tentangnya. Ia pun segera menghentikan langkahnya dan berpura pura mengikat tali sepatunya.
            “Hey, siswi baru di sekolah kita itu menjadi teman namja yang super nakal” Ucap salah seorang siswa yang berdiri bersama temannya dengan jarak yang tidak cukup jauh dari keberadaan jong-in berada.
            “Maksudhmu Kim Jong In yang mempunyai sifat aneh itu?”
            “He’em. Aku bingung, kenapa ia selalu pulang sore hari saat menjelang malam.”
            “Mungkin ia vampir haha”
            “Kau ini, apakah tahun modern seperti ini masih ada vampire”
            Jong-in yang mendengarnya pun bangkit dan melangkah menuju dua sosok namja tersebut yang sudah membicarakannya.
            “Eoh. Jong-in” Ucap kedua namja itu yang terkejut dan ketakutan. Jong-in segera berdiri di hadapan kedua namja tersebut.
            “Lain kali kalau bicara itu hati hati.” Ucap jong-in dengan sinis.
            “Eoh. Geu...reh...” Jawab kedua namja itu yang gugup.
            “Aku sudah mendengar berkali kali kalau kalian selalu membicarakanku. Tapi aku selalu mengabaiknya. Tapi kali ini aku tak senggan senggan untuk membunuhmu” Ucap jong-in dengan serius.
            “Eoh. Aku mohon, jangan bunuh kami”
            “Beberapa hari kemudian, kalian berdua akan meninggalkan dunia ini” Ucap jong-in pelan yang mendekatkan wajahnya dengan kedua namja tersebut.
            “Eoh. Jangan ucapkan mantramu jong-in.” Pinta salah satu namja yang mengetahui sosok jong-in sebenarnya.
            “Kau mengetahui siapa diriku?” Tanya jong-in yang terkejut.
            “Eoh. Anio.”
            “Katakan Cepat!” Pinta jong-in.
            “N....Ne... Kau adalah seorang Vampire” Jawab salah satu namja yang menunduk dan terlihat begitu ketakutan dan gugup.
            “Apakah kau sudah menyebarluaskan bahwa aku seorang vampire?”
            “Belum... hanya aku seorang yang tau”
            Perlahan lahan jong-in memandang dada bidang sebelah kiri namja tersebut yang sedang menunduk. Ia memandangnya dengan begitu dalam. Dan...
            Namja yang di tatap jong-in pingsan begitu saja. Jong-in pun segera melangkah pergi dengan cepat.
            “Yak Kim Jong In. Apa yang kau lakukan?” Teriak salah satu namja yang berusaha untuk membantu temannya tidak terjatuh.
            “Aku tidak melakukan apa apa” Jawab jong-in yang melangkah pergi.
            Saat itu ada Ae-rin yang memperhatikan kejadian tersebut. Ae-rin sungguh tidak tau apa yang mereka bicarakan. Ae-rin segera melangkah menuju sosok namja yang sedang membantu temannya yang pingsan.
            “Eoh. Mianhaeyo... Apa yang kalian bicarakan pada jong-in?” Tanya ae-rin.
            “Eoh. Anio... Chogiyo” Jawab namja itu yang melangkah pergi dari hadapan ae-rin.
            “Aneh... Sepertinya tadi jong-in dan kedua sosok namja itu sedang bicara serius.” Gumam ae-rin yang bingung.
            “Shin Ae Rin!”
<> 
<> 
<> 
TBC
Next or No??

Fanfiction Lee Dong Hae (Super Junior) "Miss You"







Title : Miss You
Cast : Lee Dong Hae (SuJu), Park Ye Na (OC), Other
Genre : Romance, Sad
Author : Sandra Tamara
Quotes : ‘Hari berlalu begitu cepat’
Lenght : One Shoot
Soundtrack : Park Bo Ram – Forever / Always
NB : Ini hanya FF! Mohon maaf apabila ada kesalahan nama, tempat atau sebagainya. DONT COPY tanpa seizin saya.


Mian banyak typo bertebaran.

            PAGI yang cerah ini, terlihat sosok gadis cantik berambut panjang sedang duduk di kursi taman yang berada di taman Universitasnya. Gadis ini terlihat sedang menulis sesuatu di buku diarynya.

“Begitu banyak hal yang tak mampu terucap, meski kau tak pernah mendengarnya, aku bukan orang yang bisa mencintai. Siapa pun yang kulihat, dalam dunia ini yang begitu banyak manusia, aku hanya melihatmu, aku hanya berdiri memandangimu. Aku tak tau apa kelanjutan dari kisah cinta ini, mungkinkah akan berakhir bahagia atau sebaliknya?”

            Itulah yang di tulis oleh gadis cantik ini. Ia segera menutup buku diarynya, setelah itu dia bangkit dari tempat duduknya.
            “Park Ye Na!”
Tiba tiba ia mendengar nama nya di panggil oleh salah seorang namja. Ia segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.
            “Donghae Oppa” Ucap gadis ini yang bernama Park Ye Na sambil tersenyum cerah.

><><><><><><>< 

            Yena & Donghae sedang berjalan di lorong kampus sambil mengobrol satu sama lain. Terlihat yena hanya tersenyum malu dan tidak berani menatap wajah donghae yang begitu tampan.
            “Bagaimana pendapatmu jika aku masuk Wajib Militer?” Tanya donghae yang membuat yena terkejut.
            “Eoh. Apakah kau akan masuk Wajib Militer?” Tanya balik yena yang menghentikan langkahnya dan menatap donghae dengan serius.
            “Eoh, aku tidak tau... eomma dan appa ku sudah menyuruhku untuk masuk” Jawab donghae yang memalingkan pandangannya dari yena.
            “Kau memang harus melakukan Wajib Militer, Semakin bertambahnya hari, semakin bertambahnya juga usiamu” Jawab yena yang masih tidak terima kalau donghae akan masuk Wajib Militer.

><><><><><><>< 

            Langit telah berubah menjadi warna hitam gelap, saat ini yena sedang berdiri di balkon sambil memandang langit malam yang gelap dan hanya di sinari oleh sinar rembulan dan beberapa bintang yang menemani rembulan tersebut.
            “Akankah aku membiarkan namja yang aku suka pergi untuk menjalankan Wajib Militer?” Gumam yena pelan.
            “Donghae oppa tidak boleh tau, jika aku sangat menyukainya. Perasaan ini hanya aku seorang saja yang tau” Lanjutnya kembali.

><><><><><><>< 

            Saat ini, Lee Dong Hae sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memandang langit malam yang di sinari oleh sinar rembulan dan beberapa bintang di langit.
            “Ucapan yena saat di kampus itu benar” Gumam donghae pelan.

#Flashback_On
            “Kau memang harus melakukan Wajib Militer, Semakin bertambahnya hari, semakin bertambahnya juga usiamu” Ucap yena
#Flashback_Off

            “Ne. Aku harus ikut wajib militer” Jawab donghae yang yakin dengan keputusannya. Ia segera keluar dari kamarnya menuju ruang tamunya.
            Di sana ia melihat kedua orang tuanya dan juga kakak laki lakinya yang sedang menonton tv bersama. Donghae pun menghampiri mereka dan duduk di samping kakak laki lakinya.
            “Eoh. Waeyo?” Tanya kakak laki lakinya yang bernama Lee Dong Hwa itu.
            “Eomma, Appa, Hyung... aku sudah mengambil keputusan” Ucap donghae yang tersenyum.
            “Keputusan?”
            “Aku akan mengikuti Wajib Militer tanggal 15 Oktober ini” Jawab donghae yang semangat.
            “Jinjjayo?” Tanya donghwa yang tak percaya.
            “Ne. Hyung”

><><><><><><>< 

            Esok tiba, terlihat yena sedang berjalan di lorong kampusnya, tanpa sengaja ia bertemu donghae dari arah yang berlawanan. Ia melihat donghae tersenyum bahagia pagi ini dan membuat yena bingung dengan diri donghae pagi ini.
            “Oppa” Panggil yena.
            “Yena ya”
            “Sepertinya oppa bahagia sekali” Tebak yena.
            “Eoh ahaha.... ne.... yena... makan siang nanti kau akan ku traktir” Jawab donghae.
            “Eoh. Jinjjayo?” Ucap yena yang terkejut
            “Ne...”
            “Tidak biasanya kau bersikap seperti ini.” Jawab yena.
            “Ahaha ada sesuatu yang membuatku bahagia”
            “Begitukah?”
            “Ne. Kajja kita masuk kelas bersama” Ajak donghae yang menarik lengan yena untuk berjalan lebih cepat.

><><><><><><>< 

            Jam istirahat tiba, saat ini Yena sedang duduk di kursi taman yang berada di taman kampusnya. Ia terlihat sedang menulis sesuatu di dalam buku diarynya itu.

‘Mungkin aku orang bodoh, sehingga tidak dapat mrnyatakan padamu Aku mencintaimu Lee Dong Hae’

            Tulisnya di dalam buku itu, tiba tiba ponselnya bergetar, ia pun menutup buku itu dan meletakannya di sampingnya. Setelah itu ia mengambil ponselnya yang berada di dalam sakunya.
            “Ne, Waeyo?”
            “.....”
            “Hmm baiklah, tunggu aku” Jawab yena yang mematikan sambungannya dan bangkit dari tempat duduknya.
            Ia melangkah pergi meninggalkan buku diarynya di kursi taman itu tanpa ia sadari. Tak lama kemudian sosok donghae muncul, sepertinya ia sedang mencari seseorang.
            “Dimana yena?” Gumam donghae pelan, tiba tiba matanya terbelak saat melihat buku diary di kursi taman tersebut. Ia pun mengambilnya dan membuka buku diary tersebut.
            “Milik Park Ye Na” Gumam donghae, ia pun membuka lembaran lembaran tersebut dan membacanya dengan pelan.
            “Eoh, Apa ini? Ia menyukaiku?” Gumam donghae yang terkejut saat membaca isi dari buku diary tersebut.

><><><><><><>< 

            Yena sudah sampai di tempat tujuan, ia melihat sosok temannya yang sedang menunggunya. Ia pun melangkah menghampirinya.
            “Ada apa?” Tanya yena.
            “Eoh. Ani... aku hanya bosan saja...” Jawab temannya tersebut yang duduk di kursi kantin.
            “Aish... kau ini Lee Dong Yoo” Pekik yena pada temannya yang bernama Lee Dong Yoo itu.
            “Hehehe... duduklah” Pinta dongyoo.
            “Geureh...” Jawab yena yang duduk di hadapan dongyoo.
            Saat ia ingin mengambil buku diarynya di dalam tas, ia melihat buku itu tidak ada di dalam tasnya dan membuatnya panik.
            “Eoh buku ku?” Ucap yena yang panik.
            “Buku?”
            “Buku diary ku hilang” Jawab yena yang mendongak menatap dongyoo.
            “Lalu?”
            “Buku itu tidak boleh ada yang membuka ataupun membacanya” Ucap yena yang semakin panik. Ia pun bangkit dan berlari ke kursi taman yang baru saja ia tempati.
            Sesampainya di kursi taman tersebut, ia tidak melihat apa apa di sana. Ia pun semakin panik.
            “Eoh dimana buku itu.... Ya tuhan, bagaimana ini” Gumam yena pelan yang panik.

><><><><><><>< 

            Jam makan siang tiba...
            Yena dan Donghae saat ini sedang makan siang di cafe dekat kampusnya. Terlihat donghae dan yena sedang melihat daftar menu makanan di cafe itu.
            “Bolehkah aku memesan yang lebih mahal?” Tanya yena pada donghae.
            “Tentu tapi... kau yang akan bayar ya” Jawab donghae yang membuat yena mempoutkan bibirnya.
            “Issshhh” Pekik yena pelan yang membuat donghae yang mendengarnya tertawa.
            “Ahahaha baiklah... pesan lah sesuai dengan keinginan mu” Jawab donghae yang tertawa bahagia.
            “Baiklah... aku akan pesan makanan yang paling mahal di sini” Jawab yena dengan senyum evilnya.
            “Baiklah...” Jawab donghae.
            “Pelayan!” Panggil yena, pelayan itu pun datang menghampiri mereka.
            “Ne. Mueoseul dowa deurikkayo?” Tanya pelayan itu.
            “Aku pesan makanan yang paling mahal,, tapi.... jangan mahal mahal ya...” Jawab yena.
            “Eoh. Geureh” Jawab pelayan itu dan segera pergi dari tempat mereka.
            “Eoh. Kenapa kau bilang seperti itu?”
            “Aku takut kau tak bisa bayar” Jawab yena.
            “Ahahaha kau ini”
            “Kenapa aku baru menyadarinya kalau dia menyukai ku” Batin donghae yang memandang wajah yena.
            “Duh... bagaimana ini... siapa yang mengambil buku ku itu. Aku takut jika ada yang menyebarkan bahwa aku menyukai donghae oppa” Batin yena yang masih panik tapi ia tutupi dengan fakesmilenya itu.

><><><><><><><>< 

            Mereka telah selesai makan, terlihat yena menelan sisa terakhir dari makanan tersebut, begitu pun dengan donghae yang meminum minumannya hingga habis.
            “Masitta” Ucap yena yang menunjukan kedua ibu jarinya di hadapan donghae.
            “Hehehe tentu... namanya juga makanan mahal”
            “Gomawo oppa... entah apa yang membuatmu bahagia hari ini, aku pun tidak peduli karena aku senang sudah di berikan makanan gratis oleh mu...”
            “Ahaha...Kajja” Ajak donghae untuk keluar dari cafe tersebut.

><><><><><>< 

            Langit telah berubah menjadi warna hitam gelap. Saat ini, yena sedang berkumpul bersama teman temannya di sebuah bar yang cukup terkenal.
            “Sudah lama kita tak berkumpul” Ucap salah seorang temannya yang bernama Lee Dong Yoo.
            “Ne.”
            “Oh iya, ku dengar Lee Dong Hae akan ikut Wajib Militer saat hari ulang tahunnya” Ucap salah seorang temannya yang bernama Jung yeon young. Yena yang mendengarnya hanya terkejut memandang yeonyoung.
            “Ia berangkat tepat hari lahirnya” Lanjut temannya yang bernama Lee Ha Kyo.
            “Kalian akan mengkunjunginya nanti?” Tanya dongyoo pada teman temannya.
            “Entahlah, aku begitu sibuk dengan kuliahku”
            “Kau, Yena?” Tanya yeonyoung pada yena.
            “Eoh, Aku juga tidak tau” Jawab yena yang terkejut.

><><><><><><>< 

            Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Bar yang di tempati yena dan teman temannya sudah sepi yang tersisa hanya yena sendiri yang masih meminum beberapa botol soju.
            “Lusa adalah hari ulang tahun oppa dan hari kepergian oppa untuk menjalani wajib militer” Gumam yena, ia pun meminum segelas soju setelah itu ia mengisinya kembali gelas itu dengan air berupa soju.
            “Seharusnya aku tidak bilang bahwa aku setuju jika ia ikut Wajib Militer” Ucap yena yang menyesal pada perkataannya saat itu.
            “AKKKHHHHH.....” Teriak yena kesal sehingga membuat pelayan bar itu menoleh ke arah yena.
            “Jadi karena itu ia bahagia hari ini.. seharusnya aku menyadarinya dari tadi pagi” Lanjutnya kembali.
            “Hari ini adalah hari sialku. Buku diaryku hilang, lalu berita mengenai donghae oppa bahwa ia akan wamil karena ucapanku saat itu.”

><><><><><><>< 

            Langit telah berubah menjadi warna putih cerah. Hari ini, yena sedang duduk di kursi taman dekat rumahnya. Ia hanya memandang kosong kedepan, tapi lamunannya segera buyar, ia menggroki tasnya untuk mengambil benda mahal itu. Ia menekan panggilan cepat.
            “Bisakah kita bertemu?” Pinta yena
            “....”
            “Ne, sekarang kita bertemu di tempat biasa” Jawab yena yang segera memutuskan sambungannya.
            Yena memasukan kembali ponselnya ke dalam tasnya, ia pun bangkit dari duduk dan berjalan ketempat yang ingin ia tuju.

><><><><><><>< 

            Yena sudah sampai di tempat yang ia tuju, ia melihat donghae sedang duduk di kursi taman. Ia pun melanjutkan langkahnya untuk menghampiri donghae.
            “Kau sudah datang” Ucap yena yang berdiri di samping donghae, sehingga membuat donghae terkejut dengan kedatangan yena secara tiba tiba.
            “Eoh. Ne”
            “Kajja” Ajak yena yang tersenyum.

><><><><><>< 

            Mereka berjalan di pinggir jalan sekitar taman tersebut, terlihat di antara mereka hanya ada keheningan. Yena pun bingung ingin memulai pembicaraannya darimana.
            “Apakah ada yang ingin kau bicarakan?” Tanya donghae sambil berjalan yang membuat yena terkejut.
            “Eoh, ne...”
            “Mwoya?”
            “Ige... Aku dengar... kau akan masuk wajib militer?” Tanya yena dengan ragu.
            “Ne. Aku akan masuk tanggal 15 Oktober tahun ini” Jawab donghae.
            “Apa kau yakin akan masuk?” Tanya yena yang tak ingin donghae masuk Wajib Militer.
            “Ne. Aku sudah yakin” Jawab donghae yang membuat langkah yena terhenti sehingga donghae juga ikut menghentikan langkahnya.
            “Waeyo?”
            “Ah Anio...” Jawab yena yang terkejut.
            “Kajja” Ajak donghae yang melanjutkan langkahnya, yena pun mengikutinya dari belakang.
            “Aku takut... Jika kau pergi, jika kau meninggalkanku. Bagaimana aku harus membiarkanmu pergi?” Batin yena yang memperhatikan donghae dari belakang.
            “Apa kadomu untukku?” Tanya donghae yang membuat yena terkejut.
            “Eoh. Ah sesuatu...” Jawab yena.
            “Oh iya, besok oppa berangkat jam berapa?” Lanjut yena.
            “Hmm jam 10 pagi”
            “Hmm... baiklah. Aku akan menemui oppa sebelum jam 10 pagi.”
            “Tentu, kau harus memberi ku kado. Dan kado mu itu akan ku terima dengan senang hati” Jawab donghae yang membuat yena tersenyum.
            “Apakah kadomu adalah menyatakan perasaanmu kepadaku?” Batin donghae yang menebak kado dari yena.

><><><><><>< 

            Langit telah berubah menjadi warna orange terang, saat ini yena sedang berada di toko kue yang sering ia kunjungi untuk membeli kue.
            “Aku pilih kue itu ya...” Ucap yena yang menunjukan ke arah kue dengan rasa cokelat.
            “Baiklah” Ucap pelayan itu yang mengambil kue itu.
            “Bisakah di tambahkan tulisan di atas kue tart itu?”
            “Tentu bisa. Mau di tambahkan apa?”
            “Hmm.... Happy Birthday Lee Donghae”

><><><><><>< 

            Yena telah sampai di rumahnya, ia memasukan kue tersebut ke dalam lemari esnya supaya tidak rusak untuk di bawa esok pagi. Setelah itu ia berjalan menuju kamarnya.
            Sesampainya di kamar, ia segera duduk di meja belajarnya dan mengambil sepucuk kertas untuk di tulisnya.

‘Saengil Chukka Hamnida Oppa ^_^ aku tidak bisa memberimu lebih, hanya kue ini yang bisa ku beri... Hari ini adalah hari lahirmu dan juga hari kepergianmu untuk berangkat Wajib Militer. Aku akan mengingat kejadian hari ini untuk selamanya. Mianhae... jika aku tidak memberi ucapan selamat ulang tahun dan selamat jalan kepadamu secara langsung. Hmm sepertinya itu saja sudah cukup bagimu... Oh iya, satu lagi... selama kau melaksanakan Wajib Militer, mungkin aku akan merasa kesepian, karena tidak ada dirimu yang selalu menemaniku. Chukahada oppa ^_^ Dari Park Ye Na, temanmu...’

><><><><><>< 

            Esok pagi tiba, yena membawa kotak kue tersebut serta surat yang ia tulis tadi malam ke rumah donghae. Ia berniat untuk tidak bertemu dengan donghae, karena jika ia bertemu, mungkin ia akan mengingat kejadian ini sebagai kenangan yang menyedihkan.
            Yena telah sampai di depan pintu rumah donghae. Dengan rasa ragu ia mengetuk pintu rumah kediaman donghae berada.
Tok... Tok....
Clek.
            “Park Ye Na”
            “Donghwa oppa” Ucap yena yang tersenyum manis.

><><><><><>< 

            Yena sudah memberikan kue serta surat itu kepada donghwa melalui kakak laki laki donghae. Saat ini ia sedang berjalan di lorong kampusnya sambil tersenyum bahagia.
            “Mungkin saat ini kau sudah menerima kado dari ku” Batin yena.

><><><><><>< 

            Saengil Chukha Hamnida
            Saengil Chukha Hamnida
            Saengil Chukha Hamnida
            Dangsinui Saengireul

            Itulah sebagian lirik yang di nyanyikan oleh Anggota keluarga  dan teman teman donghae. Donghae hanya berdiri di depan kue tart yang di belikan oleh sang eomma untuknya. Terlihat, raut wajah donghae sedikit bingung saat melihat tidak ada yena di antara teman temannya tersebut.
            “Dimana yena?” Batin donghae yang berusaha mencari yena dengan mata tajamnya itu.
            “Kajja tiup lilinnya” Pinta donghwa, sang kakak laki laki donghae yang berdiri di samping donghae.
            “Eoh. Ne, hyung” Jawab donghae yang terkejut. Ia pun meniup lilinnya dan mendapat tepukan tangan yang cukup meriah dari teman temannya.
PROK... PROK....PROK....

><><><><><>< 

            Acara tiup lilin telah selesai, saat ini donghae berada di kamarnya. Terlihat ia sedang duduk di kursi belajarnya sambil memandangi layar ponselnya.
Clek.
            Pintu kamarnya pun terbuka dan membuat donghae terkejut dan menolehnya. Ternyata yang datang adalah hyung nya yang membawa kotak kue pemberian dari yena.
            “Apa itu hyung?” Tanya donghae yang penasaran.
            “Hadiah dari yena padamu” Jawab donghwa yang memberikan kotak kue itu kepada donghae.
            “Yena tidak datang?”
            “Anio.”
            “Waeyo?”

#Flashback_On
            “Apakah itu kue tart?” Tebak donghwa yang melihat kotak kue di lengan yena.
            “Ne. Sunbaenim... berikan ini pada donghae”
            “Kenapa harus aku?”
            “Aku ingin pergi ke suatu tempat. Jadi tolong sunbae berikan ini pada donghae.”
            “Eoh, baiklah”
            “Di dalam kotak itu, ada surat untuknya”
            “Ne. Akan ku berikan padanya nanti”
            “Jeongmal gomawo”
            “Cheonma”
            “Aku pamit dulu sunbae” Pamit yena yang pergi meninggalkan donghwa dan juga kotak kuenya itu.
#Flashback_Off

            “Tiuplah lilinnya” Pinta donghwa yang menyalakan api di atas lilin yang berada di atas kue tartnya.
            “Hmm”
            Donghae segera meniup lilinnya yang berada di atas kue tartnya itu. Setelah apinya padam, donghwa meletakan kue itu di atas meja belajar donghae.
            “Bacalah, ia memintaku untuk membacanya.” Pinta donghwa yang memberikan sepucuk kertas kepada donghae.
            “Hmm” Jawab donghae yang mengambil kertas itu.
            Donghwa pun keluar dari kamar donghae, dan membiarkan donghae sendirian di kamarnya itu.
            “Apa isi dari pesannya” Gumam donghae, ia segera membuka lembaran kertas itu dan segera membaca isi surat itu.
            Setelah selesai membaca isi surat itu, ia menurunkan kertas itu dari hadapannya.
            “Aku pikir hadiah mu adalah menyatakan perasaanmu kepadaku” Gumam donghae yang salah besar dengan tebakannya itu.
            “Nado yena... aku juga akan merasa kesepian selama aku Wajib Militer” Gumam donghae
            “DONGHAE!! KAJJA KITA BERANGKAT” Teriak sang eomma.
            “Eoh, NE EOMMA.” Jawab donghae, ia segera memasukan kertas itu kedalam tasnya serta buku diary milik yena.
            Donghae segera turun membawa tas besarnya kebawah untuk menemui keluarganya. Ia sudah sampai bawah, Ia melihat sang appa telah bersiap untuk menyetir mobilnya, sedangkan donghwa sudah siap duduk di  kursi belakang, sang eomma hanya tersenyum di ambang pintu mobil tersebut. Donghae pun membalas senyuman sang ibu.

Skip.

1 tahun kemudian....
            Saat ini yena sedang bersiap siap untuk pergi ke suatu tempat, terlihat ia sudah menyiapkan kotak bekal nasi di hadapannya. Setelah merias wajahnya, ia pun membawa kotak nasi itu pergi ke suatu tempat.
            “Berharap aku dapat menemuimu hari ini, Lee Dong Hae” Batin yena sambil berjalan membawa kotak nasi tersebut.

><><><><><><>< 

            Yena telah sampai tempat tujuannya. Ia melihat beberapa lelaki yang mengenakan pakaian seperti sedang menjalani Wajib Militer. Dari jauh, ia memperhatikan sosok namja yang sedang mengikat tali sepatunya. Perlahan lahan di wajahnya memancarkan setengah lingkaran kearahnya.
            Secara perlahan lahan kakinya melangkah menuju sosok namja yang sedang mengikat tali sepatu itu.
            “Lee Dong Hae Oppa” Panggil yena yang tepat berdiri di hadapan Namja yang bernama Lee Dong Hae itu.
            “Eoh” Ucap donghae yang terkejut dan mendongak untuk melihat siapa yang memanggil namanya.
            “Hari berlalu begitu cepat bukan” Ucap yena yang tersenyum manis ke arah donghae.

><><><><><>< 

            Mereka telah berada di kursi taman, terlihat yena sedang membuka kotak nasi itu dan menunjukannya pada donghae.
            “Apakah ini buatanmu?”
            “Tentu, oppa”
            “Jinjjayo?”
            “Ne. Cobalah” Pinta yena yang memberikan sumpit kepada donghae.
            “Geureh” Jawab donghae yang memakan gimbab hasil buatan yena.
            “Hmm Massita” Ucap donghae sambil mengunyah makanannya.
            “Eoh. Jinjja?” Tanya yena yang terkejut.
            “Ne.”
            “Sebenarnya, ada tujuan lain aku ingin menemui oppa” Ucap yena yang menunduk malu.
            “Mwoya?”
            “Mungkin aku kurang sopan mengatakan hal ini padamu”
            “Tunggu... biar aku saja yang mengatakan hal ini” Ucap donghae yang mengerti maksud yena.
            “Eoh...”
            “Aku sangat ingin mengatakan hal ini... Mian jika ini membuatmu terkejut...”
            “Aku... Aku mencitaimu, Park Ye Na” Lanjut donghae yang membuat yena terkejut dengan pernyataan donghae.
            “Aku tau, kau akan jawab iya” Jawab donghae yang yakin bahwa yena akan menjawab iya dan membuat yena terkejut.
            “Dari mana oppa tau?”
            “Tada!” Jawab donghae yang mengeluarkan buku diary milik yena dari sakunya tersebut.
            “Eoh. Buku ku ada di oppa?”
            “Ne. Aku menemukan buku di kursi taman kampus”
            “Aish... Oppa tau, aku mencari buku ini sampai panik, aku pikir buku ini hilang” Protes yena.
            “Cepat balikan” Pinta yena.
            “Tapi... apa jawabanmu?” Ucap donghae yang menjauhkan buku diarynya dari hadapan yena.
            “Hmm... Geureh” Jawab yena yang menunduk malu
            “Sudah ku tebak. Apakah aku boleh memanggilmu Chagiya?” Tawar donghae.
            “Itu terlalu berlebihan, bagaimana jika kau memanggilku Yenaku” Tawar yena yang tersenyum.
            “Baiklah. Yena ku” Jawab donghae.
            “Ahahaha logat bicara oppa membuatku ingin tertawa” Ucap yena yang tertawa mendengar ucapan donghae.
            “Aish..”
            “Yak. Balikan buku ku” Ucap yena yang ingat akan buku diarynya.
            “Eoh, ahaha baiklah. Ini” Jawab donghae yang memberikan buku diary yena.
            “Gomawo oppa”
            “Ahaha gomawo juga chagiya”
            “Yak. Berhenti memanggilku Chagiya” Protes yena yang kesal.
            “Ahahaha okelah”
            Yena pun membuka lembaran di buku diarynya. Terlihat tinta pulpen yang berada di buku itu telah berubah menjadi pudar.
            “Sudah lama aku tidak membuka buku ini” Ucap yena. Tiba tiba saat ia membuka lembaran selanjutnya, matanya terbelak melihat tulisan di buku itu.

‘Bahkan di masa depan, aku akan tetap menggenggam tanganmu’

            “Apakah oppa yang menulis ini?”
            “Ne. Bahkan di masa depan, aku akan tetap menggenggam tanganmu” Ucap donghae yang membuat yena mendongak dan tersenyum ke arahnya.
            “Aku akan berjanji padamu oppa” Ucap yena pelan.
            “Hmm”
            “Perasaan ku akhirnya terbongkar oleh seseorang yang aku sukai. Aku tidak tau, apa yang sedang ku rasakan sekarang. Aku hanya ingin tersenyum, tersenyum dan tersenyum memandang wajah tampannya” Batin yena yang masih tersenyum memandang wajah donghae.
            “Tidak mudah mengatakan hal ini kepada seseorang yang kita cintai. Aku begitu beruntung, ternyata gadis ini juga menyukaiku. Perasaanku berubah menjadi lebih bahagia saat ini” Batin donghae yang memandang wajah yena sambil tersenyum cerah.
<> 
<> 
<> 
THE END ^^