Minggu, 21 Juni 2015

BTS Jin Fanfiction "Two Lovers"





Title : Two Lovers
Cast : Kim Seok Jin (BTS), Park Yoo Chan (OC), Park Yoo Kyung (OC)
Genre : Happy, Romantis, Urbanlife, Bromance
Author : Sandra Tamara
Lenght : Two Shoot
Art by Yeonyoung_Veggy

^Happy Reading^
^Mian banyak Typo^
 
Sandra Tamara Story line...
          Dua bocah cilik yang sedang berjalan menyusuri gang gang kecil untuk menemukan jalan raya besar. Mereka adalah dua gadis kembar yang bernama Park Yoo Chan dan Park Yoo Kyung. Yoochan memakai jepitan di rambutnya sedangkan yookyung tidak memakai jepitan di rambutnya.
          “Eon, apa cita citamu nanti jika sudah dewasa nanti?” Tanya yoochan sambil berjalan yang memakai tas rensel warna Hitam itu.
          “Aku ingin menjadi seorang presdir di perusahaan besar” Jawab yookyung, sang kakak sambil berjalan yang menggunakan Tas rensel warna Putih itu.
          “Kau sendiri?” Tanya balik yookyung
          “Menjadi seorang pemilik tokoh bunga yang terkenal” Jawab yoochan dengan senyum cerahnya di wajahnya itu.
          “Aku penasaran, di masa yang akan datang. Aku ingin tau siapa yang hidupnya bahagia terlebih dahulu? Aku atau adikku ini?” Tanya yookyung yang penasaran.
          “Tentu aku hahaha....” Jawab yoochan yang kepedean itu sambil tertawa
          “Ayo kita suit, siapa yang menang artinya dialah yang hidupnya akan bahagia” Ajak yookyung. Yoochan menerima tantangan yookyung. Mereka segera bersuit.
          “Kawi, bawi, bo!”
          Pada suit pertama mereka mengeluarkan yang sama yaitu gunting, suit yang kedua mereka sama sama mengeluarkan Batu, dan di suit yang terakhir yookyung mengeluarkan batu sedangkan yoochan mengeluarkan gunting. Dan yang menang adalah yookyung.
          “Yeay! Aku menang. Artinya aku akan hidup bahagia terlebih dahulu lalu kau” Ucap yookyung yang tersenyum bahagia
          “Baiklah. Aku akan mengalah pada kakak ku ini” Ucap yoochan dengan senyum miringnya.
          “Ayo kita harus cepat ke sekolah, nanti kita telat” Ucap yookyung yang melihat jam tangannya yang berwarna putih itu.
          “Ne...” Ucap yoochan.
          Mereka berlari menuju halte yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang. Mereka berlari secepatnya untuk sampai di halte.

Beberapa menit kemudian...
          Mereka sudah sampai di depan halte, dan saat itu juga Bus jemputan mereka sudah sampai di depan halte. Mereka segera masuk ke dalam bus itu dan mencari tempat duduk yang kosong. Saat itu yoochan melihat sosok lelaki tampan yang membawa gitar di sampingnya. Yoochan yang asik memperhatikan lelaki itu segera di tarik tangannya oleh yookyung untuk segera duduk.
          “Siapa yang kau lihat?” Tanya yookyung yang penasaran.
          “Anio...” Jawab yoochan yang berbohong pada kakaknya itu. Yookyung hanya senyum miring di hadapan sang adik.

Skip~
          Bus yang membawa mereka sudah sampai di depan sekolah mereka. Mereka segera turun secara bergantian, Saat yoochan ingin turun tiba tiba saja ada seseorang yang menerobosnya sehingga yoochan ingin jatuh dan jepitan yang di pakainya terjatuh tanpa dia sadari. Yoochan segera menyusul sang kakak yang sudah berjalan duluan.
          Saat itu ada sosok lelaki yang membawa gitar menemukan jepitan yoochan. Dia mengambil jepitan itu dan mencari siapa pemilik jepitan ini. Karena tidak ada yang mengaku akhirnya dia menyimpan jepitan itu di balik saku celananya dan melanjutkan jalannya untuk masuk ke kelasnya.

Bunyi bel sudah berbunyi...
          Yoochan, Yookyung dan kawan kawannya segera masuk ke dalam kelasnya masing masing. Dan tak lama kemudian, seorang guru berparas cantik itu masuk ke dalam kelas mereka. KM atau sering di sebut ketua kelas di kelas yoochan segera memberi hormat kepada sang guru yang berdiri di depan nya.
          “Beri hormat” Ucap sang KM. Murid murid itu segera berdiri dan membungkukkan badannya 90 derajat di hadapan sang guru.

Skip~
          Beberapa jam kemudian waktunya mereka pulang...
          Saat yoochan berdiri di depan pintu kelasnya, tiba tiba ada sosok gadis cantik yang menghampirinya sehingga membuat yoochan bingung dengan tingkah anak gadis itu.
          “Yookyung... kau sudah lihat belum, kau mendapatkan ranking sepuluh besar di seluruh siswa” Ucap anak gadis itu yang mengira kalau yoochan adalah yookyung.
          Anak gadis itu segera menarik tangan yoochan untuk melihat ke madding. Saat itu, yookyung baru keluar dari kelasnya mencari sosok adiknya.
          “Yoochan! Kau dimana?” Tanya yookyung yang tak melihat sosok yoochan.

          Yoochan dan temannya itu sudah sampai di depan madding. Mereka melihat nilai dari ujian terakir mereka. Yoochan melihat sang kakak masuk ranking 10 besar yaitu peringkat ke 9 sedangkan yoochan sendiri mendapat peringkat ke 3 dari 100 siswa.
          “Kenapa kau bisa masuk peringkat ke 9. Lihat adikmu dapat peringkat ke 3” Ucap temannya yang menatap yoochan.
          “Hyein ya... mian... aku bukan yookyung. Aku yoochan... Kau salah orang” Ucap yoochan yang terus terang ke hyein, temannya.
          “Eoh.” Ucapnya yang terkejut mendengar ucapan yoochan yang ternyata bukan yookyung, melainkan yoochan.
          “Ah... mianhaeyo yoochan... aku sungguh tidak tau kalau kau itu yookyung” Ucapnya yang bersalah
          “Ne. Gwechanayo... aku ke kelas dulu ya”Pinta yoochan dan berjalan pergi meninggalkan madding dan temannya itu.

          Saat yoochan berjalan di koridor sekolahnya, dia melihat kakaknya yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Yoochan segera memanggil kakaknya.
          “Eonni!” Teriak yoochan dan membuat yookyung menoleh ke sumber suara
          “Yoochan...” Teriak yookyung dan berlari menghampirinya.
          “Kau kemana saja? Aku mencarimu tapi kau tidak ketemu” Ucap yookyung yang kwatir akan adiknya itu.
          “Ah aku baru saja dari toilet. Kajja kita pulang” Ajak yoochan. Dia sengaja berbohong pada kakaknya karena jika yookyung melihat daftar peringkat itu. Yookyung pasti sangat sedih karena dia pernah bilang kalau dia akan menjadi peringkat 3. Tapi kenyataannya dia menjadi peringkat ke 9.

Skip~
          Sepuluh tahun kemudian...

          Yookyung dan Yoochan sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang sudah mengerti akan jatuh cinta dan sakit hati itu. Mereka berdua sudah jarang bertemu karena yoochan sekolah di Amerika sedangkan yookyung sekolah di Seoul. Mereka hanya bertemu lewat camera call.

          Pagi ini, terlihat sosok gadis cantik berambut pirang berwarna emas itu sedang menyiram tanaman yang dia rawat di sebuah toko yang cukup besar itu. Dia adalah Park Yoo Chan pemilik toko bunga yang terkenal di pusat kota New York ini.
          Cita cita yoochan akhirnya tercapai yaitu menjadi pemilik toko bunga di negara orang lain dan mempunyai cabang pusat di berbagai negara termasuk negaranya sendiri.
          Saat yoochan sedang menyiram tanaman yang dia sukai tiba tiba ada seorang pelanggan yang datang ke tokonya. Dia segera memberikan salam.
          “Welcome. Good Morning, mrs...” Ucapnya yang menunduk 90 derajat ke arah pelanggannya itu.
          “Bunga apa yang ingin anda cari?” Tanya yookyung dengan sopan
          “Tulip, Bunga tulip” Ucap pelanggan itu yang mengingat nama bunga yang ingin dia beli.
          “Baiklah. Silahkan tunggu” Pintanya. Yoochan segera mengambil bunga tulip yang tidak jauh darinya itu.
          “Anda ingin warna apa?” Tanya yoochan yang sedikit berteriak ke pelanggannya itu.
          “Warna yang sesuai untuk kekasihku. Kekasihku berpostur tinggi, dia begitu dingin sehingga aku bingung untuk membelikannya” Jelas gadis itu yang menceritakan sosok kekasihnya itu.
          “Baiklah. Akan ku pilih warna pink. Warna ini sangat cocok untuk sepasang kekasih...” Ucap yoochan yang mengambil bunga tulip berwarna pink itu. Setelah itu dia segera memberikannya ke pelanggannya dengan senang hati.
          “Thanks” Ucap pelanggannya itu yang menerima bunga dari yoochan
          “Ne. You’re welcome” Jawab yoochan yang kembali menunduk 90 derajat ke arah pelanggan itu.
          “Datanglah kemari lagi...” Teriak yoochan yang membuat pelanggannya tersenyum ke arahnya.
          Yoochan segera melepaskan celemek yang dia kenakan, dia menaruh celemeknya itu di sembarang tempat dan duduk di hadapan bunga mawar merah yang dia rawat sejak dia masih berusia 10 tahun.
          “Aku merindukanmu” Gumamnya yang mengelus kelopak bunga mawar itu dengan lembut.

          Di Seoul, Terlihat sosok gadis cantik yang mempunyai rambut panjang berwarna cokelat itu sedang sibuk mentandatangani sebuah dokumen satu per satu. Sepertinya gadis ini sangat sibuk dengan pekerjaannya.
          Gadis ini bernama Park Yoo Kyung. Yookyung sudah menjadi seorang presdir di perusahaan ayahnya itu. Bahkan dia pernah mendapat trofi dalam nominasi Presdir termuda di seluruh dunia. Memang, usianya baru menginjak 20 tahun.
          “Pekerjaan yang mengasikan... Meski aku begitu sibuk tapi setidaknya aku jarang bertemu dengan teman teman ku yang selalu memanfaatku” Gumamnya sambil asik mentandatangani dokumen yang cukup banyak itu.

Skip~
          Jam makan siang tiba...
          Yookyung pergi ke cafe yang terletak di dekat kantornya itu. Dia selalu makan siang sendirian di sebuah cafe itu. Dan yang dia selalu pesan makanan yang sama yaitu Galbi. Hari ini dia ada janji dengan presdir dari cafe ini. Entah apa yang ingin di bicarakan oleh presdir pemilik cafe itu.
          “Hallo. Saya Presdir Kim Seok Jin. Senang bisa bertemu dengan anda” Ucap seokjin yang menunduk 90 derajat kearah yookyung.
          Yookyung segera membalas dengan senyuman dan membungkuk 90 derajat ke arah seokjin.
          “Ne. Saya Presdir Park Yoo Kyung” Ucap yookyung yang tersenyum.
Mereka segera duduk di tempat yang sama sambil memakan galbi yang di pesan oleh yookyung.

          “Untuk apa anda mencari saya ya?” Tanya yookyung sambil membakar daging sapi itu di atas pemanggangannya.
          “Oh, Saya hanya penasaran saja. Ku dengar kau mendapat trofi dalam nominasi Presdir termuda di seluruh dunia” Ucap seokjin yang ikut membakar daging sapi itu di ata pemanggangannya.
          “Oh. Jadi anda hanya penasaran saja dengan sosok saya. Begitukah?” Tanya yookyung
          “Ne. Tepat sekali.” Ucap seokjin yang tersenyum menatap wajah yookyung begitu cantik.
-
          Mereka telah selesai makan siang. Mereka berjalan jalan di sekitar taman dekat kantor yookyung. Mereka begitu akrab, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
          “Aku dengar dari pelayanku bahwa kau selalu makan siang di cafe itu”
          “Eoh, ne... karena aku tidak tau harus makan dimana” Ucap yookyung yang malu
          “Haha... gwechanayo, karena kau sudah sering makan di tempat itu. Bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama di sebuah cafe yang terkenal” Pinta seokjin yang menatap yookyung.
          “Eoh. Tidak perlu... lagi pula sudah 3 Tahun aku makan di tempat itu dan selalu memesan makanan yang sama” Ucap yookyung yang menolaknya
          “Eoh. Kau tidak boleh menolaknya... Ini permintaanku sendiri.. Aku mohonlah...” Ucap seokjin yang memohon untuk makan bersama yookyung. Yookyung hanya diam.
          “Iya ya... ku mohon padamu. Sepertinya usia kita tidak beda jauh...” Ucap seokjin
          “Usiaku masih 20 tahun”
          “Ah, hanya beda 2 tahun denganku. Aku 22 tahun... Kau harus memanggilku oppa” Pinta seokjin
          “Eoh. Anio, aku akan memanggilmu Seokjin saja. Jika aku memanggilmu oppa bagiku itu terlalu berlebihan, karena kita baru pertama kali bertemu dan kita baru saja kenal” Ucap yookyung yang menolaknya untuk tidak memanggil seokjin Oppa.
          “Benar katamu. Aku yang terlalu berlebihan karena kau sudah ku anggap sebagai adikku” Ucap seokjin
          “Adikmu?”
          “Aku punya seorang adik perempuan. Dia gadis cantik sama seperti dirimu. Dia gadis yang baik, pintar, imut dan aku selalu senang jika dia memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’ ” Jelas seokjin yang merasa kehilangan sang adiknya
          “Oh begitu. Lalu, sekarang dia kemana?” Tanya yookyung yang penasaran
          “Dia sudah tidak ada, Dia meninggal dunia karena kecelakaan mobil saat 10 tahun yang lalu” Jawab seokjin dengan senyum paksanya itu.
          “Oh mianhaeyo, aku sungguh tidak tau kalau adikmu sudah... Tiada” Ucap yookyung yang berasalah.
          “Kakiku mulai terasa capek, sebaiknya kita duduk di kursi itu sambil mengobrol” Pinta yookyung yang terasa kakinya sudah tidak bisa lagi berjalan.
          Akhirnya mereka duduk di kursi taman itu sambil mengobrol, Para karyawan yang melihat mereka berdua duduk di bangku yang sama mengira kalau mereka sedang berpacaran padahal mereka hanya sebagai teman.
          “Oh iya, Apa kau mau menjadi adik bohonganku?” Tanya seokjin yang menatap wajah yookyung
          “Eoh. Ah bagaimana ini, Apa aku cocok sebagai adikmu?” Tanya balik yookyung yang salah tingkah di hadapan seokjin
          “Tentu kau cocok. Kau bisa sharing bersama mu. Kau bisa curhat bersama ku.. Aku akan selalu ada disampingmu sama seperti aku menjaga adik kandungku sendiri” Ucap seokjin yang meyakinkan ucapannya itu.
          “Hmm, baiklah aku mau...” Ucap yookyung yang menerima tawaran seokjin dengan tersenyum bahagia.

Skip~
          Sedangkan di Amerika, terlihat yoochan sedang makan siang di luar. Dia menutup tokonya untuk sementara waktu dan pergi ke cafe untuk makan siang. Saat dia berjalan menuju cafe tiba tiba dia menemukan cafe yang menjual makanan korean. Yoochan segera datang ke cafe itu untuk menikmati Korean Food.
          “Excuse me, Apakah di sini menjual Korean Food?” Tanya yoochan pada salah satu pelayannya
          “Ne. Apakah anda ingin memesan sebuah makan Korea?”
          “Hmm. Aku pesan galbi” Ucap yoochan yang dengan lingkaran setengah di wajahnya itu.
          “Baiklah. Silahkan tunggu” Pinta pelayan itu, Yoochan segera mencari tempat duduk yang kosong untuk di tempati.

Beberapa menit kemudian...
          Galbi yang di pesan yoochan datang juga, Dia segera membakar daging sapi itu dan setelah itu dia memakannya dengan lahap tanpa memperdulikan orang lain yang sedang memperhatikannya.
          “Hmm... enaknya, aku jadi rindu dengan Tanah kelahiranku” Gumam yoochan sambil mengunyah galbinya

Skip~
          Yoochan sudah selesai makan galbi di Cafe yang menjual Korean Food. Setelah makan, yoochan kembali ke tokonya untuk membuka toko bunganya itu.
          Dia berjalan santai sambil melihat ke sekitarnya. Tiba tiba ponsel yoochan bergetar.
Dret....Drett...
          Yoochan segera mengambil benda mahal itu dari saku celananya dan melihat nama yang ada di layar ponselnya.
          “Yeoboseo”
          “......”
          “Oh jinjja? Ah baiklah... Besok akan ku ambil tiket itu. Gomawo yo, ajhushi” Ucap yoochan yang begitu gembira. Dia segera menutup ponselnya dan kembali menaruhnya di Saku celananya.
          “Yeay... Akhirnya tiket menuju seoul ada juga... Tapi meski besok di ambil, mungkin keberangkatannya 1 minggu lagi” Ucap yoochan yang berpikir panjang tentang tiket pesawatnya itu.
          “Ah gwechanayo... Yang penting aku sudah mendapatkan tiket menuju Seoul” Ucap yoochan yang merasa bahagia dan melanjutkan jalannya menuju toko bunga nya itu.

Skip~
          Malam tiba...
          Seokjin sudah menunggu yookyung di sebuah cafe yang terkenal dengan stik nya itu. Seokjin sudah menunggu kurang lebih 10 menit. Tapi sosok yookyung juga tidak muncul.
          “Apakah dia tidak datang? Atau.... Dia telat?” Gumamnya yang bertanya pada dirinya sendiri.
          Tak lama kemudian, Sosok yookyung muncul di hadapan seokjin. Dia memakai mini dress warna biru muda dengan rambut warna cokelat yang di blonde itu.
          Yookyung hanya tersenyum ke arah seokjin sambil berjalan, begitu juga dengan seokjin yang terus tersenyum ke arah yookyung.
          “Mian aku telat” Ucap yookyung sambil duduk di hadapan seokjin saat ini.
          “Ne, Gwechanayo... Sebaiknya kita langsung makan, karena perutku sudah lapar” Pinta seokjin yang tak sabar ingin makan stik yang mahal itu.
          “Ne. Oppa...” Ucap yookyung dengan berat mengatakan kata oppa
         
~
          Mereka telah selesai makan, yookyung segera mengelap bekas noda di wajahnya dengan tisu yang ada di hadapannya itu. Seokjin hanya memperhatikan dalam mata yookyung yang begitu indah. Yookyung yang sadar bahwa seokjin sedang memandangnya dengan serius, Yookyung segera bertanya.
          “Seokjin oppa... kenapa kau memandangku seperti itu?” Tanya yookyung yang bingung
          “Oh anio... Kau hanya begitu cantik malam ini” Puji seokjin yang membuat yookyung tersipu malu.
          “Oh. Gomawo atas pujiannya oppa” Ucap yookyung yang malu dan menunduk sedikit

Skip~
          Esok pagi tiba, Di Amerika... Terlihat yoochan sudah memakai pakaian yang rapih dan juga sopan. Sepertinya dia ingin pergi ke suatu tempat yang ingin di tuju. Dia menutup tokonya untuk sementara waktu. Dia berjalan sambil bersenandung ceria.
          Yoochan sudah sampai di sebuah rumah yang berada di perdesaan itu. Yoochan masuk ke salah satu rumah yang ada di perdesaan itu.
Tok...tok...
          “Ajhuma.... Ajhushi....” Panggil yoochan yang begitu semangat
Clek~
          Pintu rumah itu telah terbuka. Yoochan melihat sosok wanita tua dan lelaki tua yang berada di hadapannya sekarang. Yoochan hanya tersenyum manis dan ceria kearahnya.
-
          Mereka bicara di teras. Lelaki tua dan Wanita tua ini adalah paman dan bibi yoochan. Mereka yang telah merawat yoochan hingga tumbuh menjadi gadis yang periang dan tak pernah sedih.
          “Ajhuma. Bagaimana tiketnya?” Tanya yoochan yang begitu semangat
          “Pamanmu sudah membelikannya kemarin. Tapi...” Ucap ajhuma yoochan yang gantung
          “Tapi apa...” Tanya yoochan yang penasaran dengan ucapan yang gantung dari bibinya
          “Kau akan berangkat ke Seoul sekitar 1 minggu lagi” Ucap Ajhuma yoochan
          “Ne, Gwechanayo ajhuma, ajhushi... Kalau begitu aku bisa merapihkan barang barangku terlebih dahulu” Ucap yoochan yang bertambah semangat.
          “Lalu, toko bungamu?”
          “Toko itu akan aku tutup dan aku akan berkembang di negara ku sendiri” Ucap yoochan yang mempunyai akal yang begitu banyak
          “Aish, kau ini... Ya sudah sana, cepat pergi. Ajhuma muak melihat wajah mu yang kekanak kanakan itu” Ucap ajhuma yoochan yang mengusir yoochan
          “Hehehe.... Baiklah ajhuma, ajhushi... Kalau begitu aku pergi dulu. Bye,,, jangan rindu ya!”
Yoochan segera pergi dari rumah ajhushinya. Saat di jalan menuju tokonya, dia begitu semangat sampai tiket yang baru saja di kasih oleh ajhushinya tidak pernah lepas dari tangannya.
          “Akhirnya, aku bisa kembali ke negara ku sendiri selama 10 tahun aku tinggal di sini” Gumamnya yang begitu bahagia.


TBC

Tidak ada komentar: